Arsip untuk Juli 1, 2006

Klinsmann dan Kontroversi Sepak Bola Jerman

Posted in Uncategorized on Juli 1, 2006 by Aryanto Abidin

Oleh Aryanto Abidin
Penulis adalah Peminat dan Penikmat Sepak Bola serta Pendukung Jerman, Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel

Piala dunia 2006 ini boleh jadi merupakan ujian terberat bagi Jurgen Klinsmann. Betapa tidak, Sejak dipercaya menangani timnas Jerman sejak tahun 2004 lalu, Jurgen Klinsmann dikritik oleh publiknya sendiri.
Pelatih Jerman, Jurgen Klinsmann

Bahkan Klinsmann menjadi bulan-bulanan pers Jerman dengan mengatakan Klinsmann tidak pantas melatih tim Jerman. Klinsmann tidak memiliki pengalaman melatih sedikitpun. Dia (Klinsmann) hanya bermodalkan keberhasilannya membawa Jerman menjuarai piala dunia di Italia tahun 1990. Kala itu, Klinsmann menjadi kapten tim yang dijuluki sebagai tim Panser itu.

Kontroversi tidak hanya samapi di situ. Publik Jerman mengkritik Klinsmann, lantaran membangku cadangkan kipper senior dan berpengalaman Oliver Khan. Klinsmann tentu punya alasan tersendiri untuk itu. Kontroversi lain adalah Klinsmann memasukan mantan pelatih hoki dalam daftar jajaran pelatih timnas Jerman. Kebijakan kontroversi Klinsmann ini membuat berang pers Jerman dan menuding Klinsmann tak mampu melatih dengan baik. Tidak hanya itu, Kebijakan Klinsmann lagi-lagi menuai kritik. Bukan Klinsmann kalau tidak kontroversi. Klinsmann menggunakan psikolog dari universitas ternama di Jerman untuk menangani permasalahan psikologi timnya. Tim Jerman diharuskan untuk terapi psikologi. Ballack dkk diisolasi dari keramaian. Klinsmann memilih tempat latihan di Berlin dan memilih tempat yang kondusif serta berudara bagus. Berlin adalah kota tempat laga final piala dunia.

Terakhir, bukan Klinsmann kalau tidak membuat kontroversi. Sejak dipercaya untuk menangani timnas Jerman, Klinsmann dituntut memeberikan perhatian yang lebih terhadap tim asuhannya. Saat terpilih menangani timnas Jerman, Klinsmann bermukim di Amerika. Saat itulah, Jerman mendapat kritikan yang sangat pedas dari pers dan publiknya sendiri. Klinsmann tidak ingin menetap di Jerman, Ia lebih memilih bolak balik Jerman dan mengurusi keluarganya. Demikian sorotan pers Jerman

Pembuktian Buat Klinsman

Kekhawatiran publik dan pers Jerman menjadi wajar. Hal inidisebabkan lantaran Klinsmann tidak punya pengalaman sebagai pelatih tim nasional secuilpun. Jangankan tim nasional, tim lokal atau tim junior sekalipun, sama sekali tak pernah disentuh oleh Klinsmann. Namun tangan dingin Klinsmann membuahkan hasil yang indah. Di bawah asuhannya, Jerman menang berturut-turut mulai dari babak penyisihan hingga babak delapan besar yang membuat tim raksasa Argentina tumbang. Kekalahan ini sekaligus membungkam serta membuat nangis supporter dan publik Argentina. Sebaliknya supporter dan publik Jerman merayakan kemenangan indah atas Argentina. Jerman mengubur ambisi Argentina untuk balas dendam atas kekalahan mereka 1-0 di final piala Dunia tahun 1990 lalu di Italia. Kini Klinsmann telah menepis kekhawatiran public dan pers Jerman atas ketidakmampuan dirinya. Klinsmann telah banyak melakukan revolusi atas gaya permainan sepak bola Jerman. Jerman yang biasanya bermain bertahan dan terlambat panas, kini menjadi tim yang sangar dan haus gol. Di bawah asuhan Klinsmann, permainan menyerang menjadi ciri khas Jerman. Keberhasilan Klinsman melakukan revolusi besar-besaran terhadap sepak bola Jerman, sekaligus menjawab keragu-raguan publik dan pers Jerman apakah jerman harus bermain bertahan atau menyerang, ataukah Jerman harus meninggalkan model permainan copy paste dari text book. Kini Klinsmann telah menjawab keragu-raguan itu. Klinsmann mulai mendapat tempat yang layak di hati publiknya sendiri. Setidaknya itu dibuktikan saat Jerman lolos pada laga partai delapan besar.

Kado terindah

Jika sekiranya Klinsmann mampu membawa Jerman untuk merebut kembali gelar juara dunia keempat kalinya, maka ini adalah kado terindah untuk Klismann dan kado terindah untuk Jerman. Harapan itu sah-sah saja bagi siapapun, demikian juga dengan Klinsmann maupun pendukung Jerman. Klinsman akan mencatatkan diri sebagai pelatih yang tidak memiliki pengalaman melatih namun mampu membawa Jerman menjuarai piala dunia 2006. Klinsmann telah mencatatkan dirinya sebagai pelatih termuda sepanjang sejarah piala dunia. Klinsmann telah menjadi fenomena sepak bola dunia. Banyak mata menyaksikan startegi dan taktik pelatih bertangan dingin ini. Bahkan pelatih berpengalaman sekelas Jose Pakerman pun luluh dengan strategi Klinsmann. Kini Klinsmann menjadi pusat perhatian sepak bola dunia. Bahkan Negara besar seperti Amerika siap mengontrak Klinsmann untuk melatih tim Paman Sam itu. Karir Klinsmann benar-benar mujur. Bahkan kepopuleran Klinsmann mampu menandingi sang Kaisar Bola Jerman Frank Bekenbouer yang kini menjadi presiden FIFA. Congratulations untuk Klinsmann. “Selamat Berjuang Klins!”.

Jerman “Tak Terkalahkan”, Argentina, don’t Cry!

Posted in Uncategorized on Juli 1, 2006 by Aryanto Abidin

Oleh Aryanto Abidin
Penulis adalah Peminat dan Penikmat Bola serta Pendukung Jerman
Staf Kebijakan Publik KAMMI Daerah Sulsel

Stadion Olimpic Berlin menjadi saksi sejarah atas keperkasaan tim Panser Kali ini babak Perempat final (Sabtu 30/06/06 pukul 22 WIB), Jerman menekuk salah satu favorit tim juara piala dunia 2006, Argentina. Jerman dan Argentina selama 90 menit bermain imbang dengan skor 1-1. Setelah perpanjangan waktu selama 2×15 menit, kedudukan tetap berimbang 1-1. Wasit yang memipin pertandinganpun meniup peluit panjang, pertanda perpanjangan waktu 30 menit telah usai. Jerman dan Argentina harus ngotot dalam adu pinalti. Sayang, Argentina harus menelan pil pahit, Jerman terlalu cerdas untuk persoalan tendangan pinalti. Borowski menyarangkan gol keempat. Dengan demikian Jerman menang dengan skor 4-2.

Mental baja

Ketinggalan 1-0, tidak membuat anak-anak asuhan Jurgen Klinsmann patah semangat. Tim yang dipimpin oleh Michael Ballack ini justru bermain ngotot. Selama pertandingan babak pertama, Jerman dan Argentina bermain tanpa gol hingga turun minum. Setelah memasuki babak kedua, Argentina tampil agresif. Di menit-menit awal babak kedua, Argentina lebih dulu menyarangkan si kulit bundar ke gawang Lehman lewat tendangan pojok Requelme. Tendangan pojok tersebut diselesaikan dengan indah oleh pemain asal club Valencia Roberto Ayala, tepat pada menit ke-49, yang naik membantu Crespo. Ayala lepas dari pengawalan ketat pemain belakang Jerman yang justru mengawal ketat striker mematikan asal club Chelsea, Hernan Crespo. Jerman tertipu!. Pemain belakang Jerman Philip Lahm, Per Mertesacker, Cristoph Metzelder dan Arne Friedrich gagal menghalau gerakan Ayala yang sangat lihai.

Kebobolan satu gol, tidak lantas membuat Ballack dan teman-temannya larut dalam beban kekalahan. Bagi tim Jerman, selama peluit panjang belum berbunyi, maka tidak ada alasan bagi jerman untuk berhenti menyerang atau bermain bertahan jika dalam kondisi unggul. Layaknya singa yang terluka, jerman tampil dengan permainan yang sangat cepat dan pola serangan balik yang cukup merepotkan barisan pertahanan Argtentina. Bagi Klinsmann, tertinggal satu gol, membuatnya harus memasukan gelandang pendobrak Odonkor. Hal ini dimaksudkan guna mendobrak pertahanan rapat Argentina yang dikawal Juan Sorin. Serangan demi serangan dilancarkan oleh Jerman. Namun tak satupun gol tercipta. Ujung tombak Jerman Miroslav Klose dan Lukas Podolski tidak bisa berbuat banyak ketika berhadapan dengan barisan pertahan Argentina yang dikawal oleh Juan Sorin dkk. Juan Sorin, Roberto Ayala, Leandro Cufre dan Gabriele Heinze terlalu tangguh untuk dilewati oleh Klose dan Podolski.

Sadar bahwa permainan kaki sulit menembus pertahanan Argentina yang sangat rapat dan disiplin, maka Ballack pun memutar otak untuk menembus pertahanan Argentina. Sebelumnya, berkat kecerdikan Klinsmann yang menarik Bastian Schweinsteiger dan menggantikannya dengan Tim Borowski. Borowski turut andil atas lahirnya gol jerman oleh Klose. Seperti diketahui, Gol-gol yang diciptakan oleh anak asuhan Klinsmann selalu dibangun lewat sayap kiri lapangan. Sang pengatur serangan (playmaker), Ballack mulai membangun serangan dari sayap kiri lapangan. Umpan lambung Ballack disambut dengan kepala oleh Tim Browski untuk kemudian diumpan ke Klose. Duet kepala Borowski dan Klose ini mampu diselesaikan dengan indah lewat “kepala maut” sang maestro gol Jerman. Miroslav Klose. Jerman menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-80. Meskipun kedudukan berimbang kedua tim tetap bermain ngotot ntuk saling mengugguli. (baca juga kLinkLinkwww.kompas.co.idompas)

Jerman dan Argentina saling menyerang. Sayang Usaha kedua tim untuk saling mengungguli dalam waktu 90 menit tidak membuahka hasil. Hingga akhirnya kedua tim harus memainkan permainan pada babak pertambahan waktu 2 x 15 menit. Lagi-lagi kedua tim tidak mampu memecahkan kebuntuan akibat skor imbang 1-1. Wasit pun meniup peluit panjang pertanda permainan perpanjangan waktu 30 menit telah usai. Jerman dan Argentina akhirnya harus adu pinalti untuk membuktikan siapa yang terbaik diantara keduanya. Jerman akhirnya memecah kebuntuan atas skor imbang 1-1 melalui adu pinalti dengan skor kemenangan Jerman 4-2. Jerman Menang lagi!. Jerman akan berhadapan dengan si “kunci grendel” Italia, yang berhasil menaklukan Ukraina 3-0 pada sabtu dini hari tadi.

Tak Terkalahkan

Piala dunia kali ini (2006), boleh jadi merupakan piala dunia yang tidak pernah terlupakan oleh publik dan penikmat sepak bola Jerman. Penampilan Jerman yang tidak pernah kalah dari tim lain selama pertandingan penyisihan hingga delapan besar, membuat publik jerman menyaksikan sendiri ketangguhan Tim kesayangannya. Sepanjang sejarah piala dunia, Jerman selalu kalah lebih awal atau bermain seri. Namun pada piala dunia kali ini, Jerman betul-betul tampil menawan. Jerman tak terkalahkan sejak babak penyisihan grup hingga menyingkirkan Argentina di babak delapan besar.

Penampilan menawan anak-anak asuhan Klinsmann, mampu membangkitkan kepercayaan publik atas pelatih Klinsmann. Klinsmann yang sebelumnya banyak diserang oleh pers Jerman, lantaran menjadi pelatih tidak pernah memiliki pengalaman melatih. Michael Ballack dkk, mampu membawa Jerman menggapai tangga Semifinal. Kemenangan berturut-turut Jerman sejak babak penyisihan grup hingga babak delapan besar, membuat Jerman yakin akan mampu merebut kembali gelar juara dunia untuk keempat kalinya. Sejak pertandingan pembuka piala dunia tanggal 9 Juni lalu, Jerman membuktikan diri sebagai yang terbaik. Jerman mengalahkan Kostarika dengan skor 4-2. Dengan penampilan cemerlang ini, sekaligus memberikan isyarat bagi tim lain akan keperkasaan Jerman. Laga awal ini sekaligus mencatatkan permainan kedua tim sebagai laga gol terbanyak pada partai pembuka piala dunia yakni 6 gol sepanjang piala dunia sejak tahun 1930.

Di partai penyisihan grup A, setelah melumat Kosta Rika dengan skor 4-2, jerman menaklukan Polandia dengan skor tipis 1-0. Pada pertandingan ketiga babak penyisihan grup melawan Ekuador, Jerman kembali menampakan dirinya sebagai tim yang bermental juara Jerman menekuk Ekuador dengan skor telak, 3-0 untuk kemenangan Jerman. Jerman melaju ke babak enambelas besar dengan menyandang gelar juara grup A. Pada babak enambelas besar ini, jerman meladeni runner up grup B Swedia. Pertandingan melawan Swedia adalah pertarungan hidup mati bagi Jerman. Jerman harus mengalahkan Swedia jika tidak ingin tersingkir lebih awal. Ballack pun menunjukan kematangan timnya dengan menekuk Swedia, 2-0 untuk kemenangan Jerman. Mengalahkan Swedia di babak enambelas besar membuat Jerman terus melaju ke babak delapan besar. Di babak delapan besar inlah Jerman menundukan Argentina lewat adu pinalti dengan skor 4-2. Sekedar diketahui, bahwa Jerman memiliki sejarah tidak pernah terkalahkan dalam hal adu pinalti. Pemain Jerman memiliki kemampuan eksekusi yang baik ketika harus adu pinalti. Sekali lagi, Jerman tak terkalahkan untuk persoalan adu pinalti.

Kekalahan Menyakitkan

Kekalahan menyakitkan!. Mungkin inilah kata yang patut kita lontarkan atas kekalahan tim Argentina dari tim Panser Jerman. Betapa tidak, pertandingan yang layak kita sebut sebagai pertandingan laga final ini, didominasi oleh Argentina. Bahkan Argentina lebih dulu menyarangkan bola ke gawang Jerman yang dijaga oleh Jens Lehman. Unggul satu gol membuat pelatih Argentina Jose Pakerman (56) sesumbar. Lewat keputusan kontroversial dengan mengganti gelandang menyerang Juan Roman Requelmi dengan dengan penyerang muda Cruz. Tidak sampai di situ, Pakerman mengambil keputusan yang tidak populis yakni dengan mengganti Hernan Crespo dengan Esteban Cambiasso. Padahal Hernan Crespo dan Requelme merupakan pilar penyerang Argentina guna menambah pundit golnya. Inilah awal kekalahan Argtentina. Jerman yang sebelumnya juga sudah diperkuat gelandang menyerang Odonkor menggantikan Bastian Schweinsteiger membuat serangan Jerman lebih hidup. Jermanpun menyamakan kedudukan menjadi 1-1 pada menit ke-80.

Kekalahan ini sekaligus menguburkan ambisi Argentina untuk membalas dendam atas kekalahan yang menyakitkan 1-0 lewat hadiah pinalti di Roma Italia pada tahun 1990. Waktu itu Jerman dan Argentina sama-sama maju di babak Final. Pada waktu itu, bagi Jerman pertandingan Final tahun 1990 di Italia merupakan pertandingan balas dendam atas kekalahan mereka di Piala dunia di Mexico tahun 1986 dengan skor 3-2 untuk kemenangan Argentina. Pada piala dunia 1990, Jerman (pada waktu itu Jerman Barat) mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 untuk kemenangan Jerman. Jerman pun membawa pulang gelar juara dunia untuk ketiga kalinya. Saat itu, Jurgen Klinsmann sebagai kapten keseblasan Jerman. Bermodalkan keberhasilannya itulah Ia ditunjuk oleh federasi sepak bola Jerman sebagai pelatih tim nasional Jerman sejak tahun 2004 lalu.

Don’t Cry, Argentina!

Kekalahan memang menyakitkan. Apalagi untuk tim besar seperti Argentina. Negara yang rata-rata memiliki pemain yang mempunyai bakat alam bermain bola itu, harus takluk di tangan Jerman yang baru belakangan mengenal sepak bola lewat text book. Kekalahan Argentina membuat supporter dan publik Argentina berderai air mata. Bahkan di akhir pertandingan, beban psikologis tidak bisa ditepis oleh anak asuhan Jose Pakerman. Pemain Argentina menyerang official tim Jerman. Peristiwa itu dipicu oleh ketidak mampiuan mereka menerima kekalahan. Apapaun hasilnya, ini adalah sebuah permainan. Kalah menang hanyalah konsekwensi dari setiap pertandingan. Tentu kita berharap Argentina bersikap jantan. Semoga public Argentina tidak menangisi timnya seperti mereka menangisi kematian presiden wanita mereka yang dekat dengan rakyatnya, Evita Peron. Kita tidak ingin roh Evita Peron bangkit lagi, untuk kemudian mengatakan: “Don’t cry for me Argentina”. Untuk itu, buat pendukung Argentina, (sekali lagi) ini hanyalah permainan. So, don’t cry, Argentina!. Its just a game, you now!.