Arsip untuk Tips menulis kategori

Syndroma of Literer (Fenomenologi komunitas “antik” : WD17)

Posted in Tips menulis on Agustus 24, 2006 by Aryanto Abidin
Seri tafsir ke-kita-an. Karena
kita adalah ke-aku-an yang majemuk

Syndroma of Literer

(Fenomenologi komunitas “antik” : WD17)

Entah sudah berapa buah buku yang sudah saya baca, yang secara khusus membahas tentang menulis. Hingga akhirnya saya jenuh membacanya., dan saya pun berkesimpulan menulis tidak cukup dengan teori. Akan tetapi memulai menulis itu adalah resep yang paling mujarab. Dapat pula kita ajukan pertanyaan, entah sudah berapa buku yang membahas tentang budaya menulis. Atau entah sudah berapa banyak penulis yang menulis tentang menulis. Perkembangan dunia kepenulisan yang begitu “dahsyat” dan dinamis membuat orang berbondong-bondong berkiblat kepada dunia literer. Dunia yang dulunya sangat “tabu” untuk dilakoni, bahkan terkesan “najis” untuk disentuh. Celakanya lagi dunia kepenulisan-dulunya-hadir dalam rupa yang superioritas yakni milik mereka yang bergelut di dunia sastera. Sekarang, dunia kepenulisan begitu akrab dengan keseharian kita, menembus ruang dan waktu serta batas usia. Maka jangan heran bila ada anak-anak usia TK atau SD sudah populer dalam menulis. Buku yang membahas tentang menulis bertebaran di sudut-sudut toko. Bahkan saking banyaknya pecandu literer: litereoholic (baca: pelaku, penikmat dan penyuka dunia kepenulisan) jenis-jenis tulisan pun bermunculan bahkan mebentuk mazhab-mazhab baru dalam dunia kepenulisan.

Hal ini tentu tidak bisa kita lepaskan dari pengaruh peradaban yang berjalan sangat dinamis, linear dengan pola pikir manusia yang dinamis. Setiap gerbong sejarah, tentu melahirkan ciri khas masing-masing. Misalnya saja dalam dunia sastera Indonesia. Kita diperkenalkan dengan beberapa mazhab. Ada yang namanya sastra zaman pujangga lama, zaman pujangga baru dan zaman modern serta abad millennium (coba ingat kembali pelajaran bahasa dan sastra Indonesia waktu kita masih SD – SMA, pasti nyambung deh!).

Dari segi tema pun, juga sangat beragam. Mulai dari tema (picisan) cinta, heroic, Gender, konflik, social, hingga menyerempet ke urusan ranjang dan kelamin. Sebut saja Jakarta Under Cover (Muamar Emka), Jangan Main-Main dengan Kelaminmu (Djenar Mahesa Ayu), Larung (Ayu Utami), Kampus Under Cover (Lupa nama Penulisnya), Sex in the Kost (Iip Wijayanto). Tema-tema seperti ini laris manis di era 2000-an. Dalam konteks kekinian, khususnya di Indonesia, mazhab itu begitu menonjol. Untuk Indonesia, trend menulis sekarang adalah berkiblat pada kehidupan remaja yang gaul, anak sekolahan dll. Model tulisan seperti ini yang kemudian disebut sebaga Teenlets. Tapi, dalam tulisan ini, saya tidak sedang ingin membahas mazhab-mazhab tulisan atau menggurui anda tentang menulis. Sekali lagi: “Tidak”,titik! nggak pake koma. Untuk persolan ini saya tidak cukup kapabel untuk memperbincangannya. Saya tidak ingin “merampas” hak mereka yang lebih mafhum dengan hal ini.

Fenomenologi komunitas antic: syndrome of literer and discus

Lalu, apa yang hendak saya bahas dalam tulisan ini. Begini!, saya mengamati akhir-akhir ini “libido” menulis rekan-rekan saya, semakin menggebu-gebu. Setidaknya itu terlihat dari majalah tembok (Mabok), ralat, majalah dinding maksudnya, yang sudah tak kuasa lagi menahan huruf demi huruf. Yang kemudian menyusun menjadi kata, lalu kemudian terangkai menjadi kalimat yang apik, lalu membangun satu kesatuan kalimat, hingga disebut sebagai sebuah karya tulis (mau mi’ diganti kodong gabusnya, ganti ki’ dengan yang lebih besar lagi). Bukankah hal tersebut merupakan sesuatu yang fenomena kawan? Mereka menisbatkan diri dalam sebuah komunitas “antik” D17. Antik? Iya, antik. Emang kenapa? Ada yang salah ya? Mereka yang sering singgah-entah untuk melakukan apa saja-dan tinggal di D 17, mereka itulah komunitas antik. Demikianlah mereka saya sebut. Baik, kita mulai. Tapi mulai dari mana ya? Oh, saya baru dapat ide. Jangan berpaling dulu.

Komunitas antik Wesabbe D17 (WD17), demikianlah saya menyebutnya. Komunitas ini bukan tempat kongko-kongko. Bukan pula komunitas yang biasa-biasa aja. Mereka bergerak dan berbuat di atas rel-rel dakwah menuju sebuah tujuan mulia: menggapai ridha-Nya untuk kejayaan islam. Komunitas ini unik. Penunggunya (baca: orang yang menetap dan sering bermalam di D17), pun unik. Uniknya, karena beberapa hari yang lalu kami seperti kahilangan ide dan motivasi lantaran tidak bersentuhan dengan tuts keyboard computer, dikarenakan computer yang kami pakai diambil kembali oleh si empunya. Mungkin terindikasi syndrome literer. Sebuah sindrom ketagihan menulis atau ada kecemasan ketika tidak menulis. Demikian diagnosa awal saya (cie…, kaya dokter aja). Tapi yang pasti, sekarang computer KAMDA dah bagus dan bisa dipake buat nulis-nulis.

Banyak alasan kenapa orang harus menulis. Tapi sebahagian besarnya mengarah kepada satu kesimpulan: aktualisasi diri. Lantas, apa yang salah dengan aktualisasi diri? Over acting kah hal tersebut? Tidak! Sah-sah saja kok jika seseorang keranjingan menulis. Menurut saya itu hal yang fitrawi. Bahkan Abraham Maslow yang juga kita kenal dengan teori Jembatan Maslow nya, menempatkan aktualisasi diri adalah kebutuhan yang utama dan mendasar bagi manusia dibandingkan dengan kebutuhan lainnya (kebutuhan primer, sekunder dan tersier). Hanya saja, menulis dalam ruang publik butuh pertanggung jawaban (acountability), sehingga tulisan menjadi lebih bermakna. Bagi aktivis dakwah, Intinya jangan sembarang menulis, apalagi tulisanya sesat lagi menyesatkan (he…99x. Kaya fatwa ulama saja).

Bagi komunitas antik (antic-ers), menulis adalah suatu keharusan atau sesuatu yang wajib. Tiap hari harus ada karya yang lahir dari kamar kita masing-masing. Makanya antic-ers ini mencoba menginisiasi dan memberi contoh kepada kader-kader KAMMI untuk menumbuhkan budaya literer ini. Jangan hanya menulis karena keterpakasaan. atau hanya karena membayar iqob. Tulis aja, seolah tanpa beban. Biarkan pikiran kita mengembara dan salurkan lewat tuts keyboard. Demikianlah komunitas antic-ers ini berkarya. Hal-hal yang (biasa dianggap) sepelepun juga diwacanakan untuk kemudian didiskusikan. Masalah apa saja, tidak peduli apakah masalah tersebut substansi atau tidak. Dalam ruang diskusi terjadi dialetika. Artinya ada komunikasi dua arah. Dalam ruang dialetika, tidak mengenal masalah itu substansi atau tidak substansi. Sebab, dalam ruang diakletika tidak ada yang tidak substansi. Semuanya serba substansi. Begitulah uniknya antic-ers. Sekali lagi jangan phobia dengan diskusi. Dari diskusi, input informasi akan tertananm dalam ingatan kita, kemudian kita tumpahkan kembali dalam bentuk tertulis. Luar biasa!. Inilah komunitas antik. Mereka memilih menikahi tuts keyboard dan monitor komputer untuk membunuh dinginnya malam, serta saat syndrome ingin menikah mulai mampir di ubun-ubun. Proses berpikir terbangun dari sini, sehingga otak tidak tumpul.

Fenomenologi komunitas antic: Style, character and behavior

Dari segi penampilan aja, masing-masing nggak matching. Ada yang celananya di atas mata kaki, ada yang berpenampilan seperti preman, tapi untungnya berhati Stinky, ada yang body nya terlalu over (Boge= Body gede maksudnya), ada yang seperti Kutilang (Kurus tinggi langsing maksudnya). Ada juga yang punya waktu khusus untuk tidur: tidur pagi. Pokonya macam-macam deh. Dari sifat dan karakter apalagi. Ada yang tawadhu sekali, ada yang diam-diam menghanyutkan, ada yang sensitif, ada yang suka terbawa emosi, ada yang karakternya keras, ada juga yang berkarakter kapitalis lantaran selalu minta ditraktir tanpa kontribusi sedikitpun, intinya pake teori asas manfaat (he…3x, ini kebiasaan buruk Bro! Tapi ukhuwah kita masih ada kan?). Demikian julukan yang diberikan oleh salah seorang diantara kami.

Dialog antara sifat dan karakter keakuan yang majemuk tersebut, membuat para komunitas antic (antic-ers) harus bisa mendefinisikan ulang keakuannya masing-masing. Hal ini perlu, agar tidak terjadi benturan, sehingga melahirkan ke-kita-an. Untuk itu diperlukan kesalingpahaman. Makanya saya menuliskannya agar kita menyadari, bahwa ada yang perlu diperbaiki dari diri kita. Tapi meskipun demikian, nuansa keakraban juga lahir dari karakter yang majemuk. Tulisan ini juga dimaksudkan untuk mengobati syndrome literer yang sedang menjangkiti saya. Wallahu’alambishowaab.

No copyright. Silahkan dibajak habis-habisan. Pelanggaran terhadap tulisan ini, tidak akan dikenai pasal apa-apa, apalagi pasal pembajakan. Maaf tulisan ini belum dipublikasikan apalagi best seller, karena memang tidak niat untuk diperjual belikan apalagi diperdagangkan (tetap aja sama maknanya Bung!!!). Sepertinya saya harus menulis nama nih! agar nggak dituduh yang macam-macam. Saya Aryanto Abidin. Jabatan:bukan siapa-siapa kok.

Pantangan membaca tulisan ini: Dilarang membaca diam-diam, Jangan baca saat marah atau kesal, Nggak boleh syirik, Tulisan ini adalah pengantar tidur, makanya jangan baca kalo kamu lagi sedang serius. Saya menulis tulisan ini saat saya sedang bosan, makanya tulisan ini juga membosankan (nggak mutu, tau. Tulisan ini nggak konsisten, bawaannya serius, eh…, ujung-ujungnya ngawur coy!. Masih mau ko’!!.

Menulis itu "Sexy" (Obat Kuat untuk Calon Manusia Indonesia Seutuhnya)

Posted in Tips menulis on Juni 4, 2006 by Aryanto Abidin

Jika kamu ingin hidup melampaui usiamu, maka menulislah

[.............]

Bila mulut dibungkam, maka pena harus bicara

[Semboyan wartawan]


Kalau pada saya ditanya, hal apakah yang tidak disukai?, maka saya dengan tegas akan menjawab: membaca. Lalu apalagi? Maka saya akan menjawab lagi: menulis. Sebegitu parahkah saya? Atau mungkin juga anda. Oh…!, tunggu dulu. Itu dulu, waktu saya masih anak sekolahan. Sejak SMP dan SMA, saya paling tidak suka yang namanya mengarang. Tapi karna tuntutan nilai, maka sayapun ”terpaksa” atau lebih tepatnya pura-pura suka terhadap mata pelajaran mengarang. Sebab, kalu tidak, maka nilai bahasa Indonesia saya akan berpengaruh. Bisa-bisa terancam nilai merah. Dalam setiap ujian, mengarang memiliki bobot nilai yang paling tinggi. Namun anehnya, ketika saya memulai mengarang, kata-kata dalam pikiran saya begitu mengalir di atas krtas ujian. Bahkan tak jarang saya harus meminta tambahan kertas ujian.

Semenjak masih sekolahan, saya adalah orang yang sangat jarang sekali membaca, apalagi membaca buku-buku sastra (novel, cerpen dan puisi). Bagi saya, buku-buku tersebut adalah karya picisan. Saya lebih suka terhadap mata pelajaran yang sifatnya analitik. Kini, semuanya telah berubah. Saya begitu suka dengan menulis dan kagum terhadap orang-orang yang suka menulis. Apalagi tulisannya dimuat di koran-koran. Nah, mungkin tulisan ini setidaknya mengajak anda untuk sedikit mencintai tentang dunia kepenulisan. Apa dan bagaimana sih menulis itu? Sulitkah menulis itu? Dan kenapa sih kita harus menulis?. Jawabannya sederhana, pelototi trus tulisan ini hingga lembaran terakhir. Ditanggung nggak rugi kok.

Kenapa harus menulis?

Scripta manent, verba volant. Kurang lebih berarti: yang tertulis akan abadi, yang terucap akan lenyap bersama hembusan angin. Itulah ungkapan seorang filosof yang namanya telah hilang dari memori otak saya. Bukan karena sengaja saya melupakannya, tetapi mungkin saja otak saya lagi hang (Maklum pentium jaman onta). Setidaknya kalimat inilah yan memotivasi saya untuk menggerakan jari jemari saya di atas papan keyboard komputer, sekedar berceloteh tentang keresahan. Maka tidak heran seorang penulis buku best seller Berani Gagal, Billi PS Linn, mengatakan bahwa Ia tidak ingin mati begitu saja. Kemudian menjadi jasad organik setelah ditanamkan dalam tanah, tanpa mewariskan sesuatu. Dan warisan itu adalah karya tulis. Maka lahirlah buku dahsyat yang berjudul (sekali lagi) Berani Gagal, yang diterjemahkan lebih dari 30 bahasa.

Suatu waktu teman saya pernah mengatakan, juka kamu ingin hidup melampaui usiamu, maka menulislah. Kalimat tersebut seolah tak mau lepas dari ingatan saya. Saya berusaha ubtuk belajar menulis. Layaknya anak kecil yang baru belajar berjalan; jatuh dan jatuh, lalu bangun lagi.

Kenapa harus menulis? Buat apa menulis?. Mungkin pertanyaan-pertanyaan ini akan memburu kita tatkala sedang memulai menulis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seolah menjadi pembenaran akan ketidak mampuan kita untuk menuangkan ide dan pikiran kita dalam bentuk tulisan. Ada beberapa hal yang mengharuskan kita kenapa harus menulis. Pertama, menulis adalah tradisi intelektual. Sebagai mahasiswa maka menulis adalah suatu keharusan. Menulis adalah cara yang ampuh untuk melatih kembali daya ingat kita. Alangkah sia-sianya kita yang setiap hari berkutat dengan berbagai macam teori, dari teori A sampai teori Z, kemudian tidak mampu menumpahkan kembali dalam bentuk tulisan. Ilmu itu ibarat binatang buruan, membaca adalah senjatanya dan menulis adalah pengikatnya, demikian kata para ulama.

Kedua, menulis itu membebaskan. Tak sdikit orang yang menumpahkan masalah kesehariannya dengan menuliskannya dalam diary pribadi mereka. Hal tersebut mereka lakukan untuk melampiaskan apa yang mereka rasakan. setelah itu mereka cukup tenang karena tlah menumpahkannya lewat tulisan. Tak jarang dari buku catatan harian mereka banyak diterbitkan oleh penerbit buku. Soe Hoek Gie misalnya, dengan bukunya yang diberi judul Catatan Harian Seorang Demonstran (CHSD). Buku ini menjadi literatur sejarah dan menjadi saksi atas kesuraman rejim orde lama. Pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan Al banna, dengan buku yang diberi judul Memoar Hasan Al banna dan Risalah Pergerakan. Buku tersebut menjadi inspirasi bagi jamaah Ikhwanul Muslimin untuk tetap berkomitmen terhadap islam. Bung Karno dengan karya monumentalnya Di Bawah Bendera Revolusi

Ketiga, menulis merupakan alat perlawanan. Sejarah banyak mencatat mereka yang melakukan perlawanan dengan bersenjatakan pena. Yusuf Qardhawi misalnya, karena dilarang berceramah lewat mimbar, maka Ia pun mengalihkan ceramahnya lewat tulisan, maka lahirlah karya monumentalnya Al Halal Wa Haram Fi Al Islam (Halal dan haram dalam Islam). Lain lagi dengan Muhammad Quthub. Ia melahirkan karya monumentalnya yang berjudul Fii Dhilalil Qur’an (Di bawah Naungan Al-Qur’an) di balik jeruji besi (penjara). Demikian juga almarhum Pramudiya Ananta Tour (PAT), buku-bukunya lebih banyak lahir di balik jeruji besi. Pada masa orde baru, buku-bukunya diharamkan beredar di indonesia. Namun tak sedikit anak-anak muda dan aktivis mahasiswa yang secara sembunyi-sembunyi membaca bukunya. Tan Malaka dengan Madilog nya (Matrialisme, Dialetika dan Logika) juga lahir dibalik jeruji besi (penjara).

Keempat, Manfaat benefit dan Profit. Tidak dapat dipungkiri, menulis memberikan manfaat yang sangat besar bagi si penulis. Manfaat tersebut adalah manfaat benfit atau ketenaran. Sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, seseorang yang tulisan-tulisannya dimuat di media cetak, baik secara langsung maupun tidak langsung membuat ia menjadi tenar atau tekenal. Di sisi lain manfaat profitpun juga diperoleh jika tulisan-tulisannya dimuat di media cetak. Atau penulis skenario yang menulis untuk sebuah cerita sinetron atau film. Dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

Siapa yang menyangka buku-buku meka tesebut diterbitkan oleh penerbit? Bahkan sangat laku di pasaran. Soe Hok Gie (SHG) tidak pernah becita-cita untuk menerbitkan catatn hariannya menjadi sebuah buku. Bahkan ia tidak sempat menyaksikan catatan hariannya akan diterbitkan. Dia mati muda menjelang usia 27 tahun di gunung semeru. Mira Lesmana pun mem-filmkan buku CHSD dengan judul Gie. Pada saat itu juga sosok SHG menjadi akrab di telinga kita dan anak-anak muda serta mahasiswa angkatan 2000-an, lantaran SHG hadir dalam wajah tampan Nicholas Saputra. Padahal mereka seblumnya sangat lekat dengan budaya hedonisme yang menggerogoti mereka. Maka beruntunglah saya yang membaca SHSD semenjak masih mahasiswa baru, disaat anak-anak muda lainnya secara sembunyi-sembunyi membaca novel Fredy S. Belum menjadi mahasiswa kalau belum membaca CHSD, maka sayapun memburunya di tempat rental buku. Luar biasa, itulah kesan saya thadap CHSD. Asyi Sahid Hasan Al Banna pun demikian. Ia tidak pernah menyangka catatan hariannya akan di terbitkan dan dibukukan. Oleh murid-muridnya, catatan-catatan tersebut diberi judul Majmu’a Risalah (Risalah Pergerakan). Demiakian juga PAT, ia tidak pernah bepikir untuk menrbitkan tulisan-tuliannya. Tidak perlu risau tentang tulisan kita yang tidak ditbitkan, menulis saja, menulis apa yang kita rasakan, menulislah untuk diri kita sendiri. Demikian pernyataan PAT. Menulis memiliki arti penting bagi peadaban. Bayangkan! Apa jadinya seandainya ilmu pengetahuan tidak ditulis oleh para penemu-penemu teori.

Menulis adalah pekerjaan membaca

Sebahagian orang mensinyalir, menulis bebanding lurus dengan kegiatan membaca. Hal ini jelas menambah pebendaharaan kata bagi si pembaca. Bagaimana mungkin seorang yang ingin jadi penulis hebat tapi kurang berinteraksi dengan dunia kata (membaca). Padahal, untuk menjadi penulis diperlukan keahlian meilih dan memadu kata agar terangkai menjadi sebuah kalimat yang mudah dicerna. Jadi, menulis adalah kegiatan membaca. Bahkan dalam Al-Quran, ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT adalah ayat yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk membaca: iqra’.

AS Kambie dalam makalahnya yang disuguhkan pada diklat jurnalistik dasar VII tahun 2001 silam oleh Unit Kegiatan Pers Mahasiswa (UKPM) (waktu itu saya sebagai peserta), mengatakan bahwa menulis itu ibarat orang belajar naik sepeda, bila terjatuh maka coba lagi. Hati-hati dalam menulis, bila penulis terjatuh, maka pembaca akan terluka. Oleh karena itu, perbaiki tulisan anda dengan banyak membaca. Karna membaca adalah prasyarat mutlak untuk menulis.

Mahasiswa, menulislah

Rasa-rasanya kurang sempurna bila seorang mahasiswa tidak mampu menuangkan ide dan pikiran cerdasnya lewat tulisan. Apalagi bagi yang mengaku aktivis mahasiswa. Sekuat apapun bacaan dan retorika (budaya oral), itu tidak kan berarti apa-apa. Kata-kata akan menguap begitu saja. Banyak aktivis mahasiswa yang jago bicara/retorika, bahkan bicara dengan basis data, namun gagal menuangkannya dalam bntuk tulisan. Pertanyaannya, mengapa tidak mencoba menulis? Padahal menulis tidak mengapa. Minimal di media kampus.

Mungkin budaya literer kita tidak dimulai sejak dini. Mungkin ada baiknya anak cucu kita nantinya, sesekali mereka diajarkan untuk meminta sesuatu dengan cara menuliskannya.Agar mereka lebih akrab dengan gaya literer. Bagaimana dengan anda ?. Siapkah anda menajamkan pena untuk menorehkan sejarah dalam kehidupan kita?.

Saya berharap setelah membaca tulisan ini, anda mengambil pena dan selmbar kertas, kemudian mengambil nafas panjang, lalu menuliskan kata-kata yang ada dari dalam hati anda. Boleh jadi dalam hitungan jam anda telah mahir menulis, atau dalam hitungan minggu, atau dalam hitungan bulan dan bahkan boleh jadi dalam hitungan tahun. Berbagai cobaan dan ”luka” akibat trjatuh dari anak tangga menulis, telah anda lewatkan. Lalu lahirlah sebuah karya dahsyat, dan anda terkejut. Lalu anda menyimpulkan, ternyata menulis tidak semudah membalikan telapak tangan. Mudah-mudahan saya tidak sedang menggurui anda. Semoga!. Wallahualmbishowaab.