Arsip untuk tulisanku kategori

Luka itu Milik Siapa?

Posted in renungan on Agustus 3, 2006 by Aryanto Abidin

Ada tanya mulai memburu: mengapa harus ada luka?
Tapi kenapa tidak kau tanyakan: darimana luka itu?
Sudikah kita melihat kuntum-kuntum iman
yang sedang layu di taman-taman dakwah
Sekedar mengokohkannya untuk tetap teguh
Lalu menuai kuntum-kuntum yang baru

Kawan!
Sepertinya, ada yang mencuri ukhuwah kita pagi ini
Saat doa Rabitha lupa mengoyak sunyi
Sebagai kado iman untuk saudara-saudara kita
Hingga malam menyembunyikan siang
Sampai waktu akan terus menjaga mereka

Kawan!
Mengapa ada tanya: mengapa harus ada luka?
Mengapa tanya itu harus memecah telinga?
Tidakah kau tanya: untuk apa tanya itu?
Sepertinya tanya itu hanya menorehkan memar di jiwaku
Membuat luka yang teramat lebar di hatiku
Aku hanya berharap, semoga waktu menyembuhkan lukaku

Aku masih saja disiksa pertanyan
Dan engkaupun harus ungkapkan tanya: luka itu milik siapa?
Ah, sepertinya tanya ini hanya miliku saja
Mungkin juga rasa ini rasaku jua

Kamar kontempelasi, rumah sejuta ide, Wesabbe D 17
Kamis, 3 Agustus 2006 Jam 8 pagi

Saat matahari pagi menyemburkan sinar keagungannya,
menebar rezki kepada siapa saja. Saat waktu mulai luruh.
Saat sekertariat ini mulai disesasaki dengan rapat,
walau sesekali membuyarkan kontempelasiku.
Saat nalarku masih menyimpan tanya itu.
Saat jiwaku masih saja resah dengan tanya itu.
Maka akupun memilih menuntaskan resahku dengan
bait (puisi) picisan ini. Untuk itulah puisi ini tercipta.

Sayangnya Saya Orang Indonesia

Posted in artikel dan opini, tulisanku on Juli 8, 2006 by Aryanto Abidin

diambil dari Budi Rahardjo @ 7:45 pm

Kalau dalam beberapa tulisan terdahulu saya mengatakan bahwa untung saya orang Indonesia, kali ini saya ingin mengatakan sayangnya (ruginya) saya orang Indonesia. Hal ini terkait dengan berita yang saya kutip dari koran Bisnis Indonesia ini.

Bisnis Indonesia, 7 Juli 2006, Jakarta
PII minta gaji insinyur lokal naik
Persatuan Insinyur Indonesia (PII) minta pemerintah meningkatkan billing rate insinyur lokal yang selama ini lebih rendah 10 kali lipat dibandingkan tenaga profesional asing.
Wakil ketua PII Airlangga Hartarto mengatakan permintaan itu sudah disampaikan kepada Bappenas karena lembaga itulah yang mengeluarkan diskriminasi tarif standar gaji insinyur lokal dan asing. Baca selebihnya »