Ahirnya sampai juga di makassar hari ini. Tepat jam lima sore kapal Tilong kabila sandar di pelabuhan Soekarno Hatta. Perjalanan yang melelahkan…….
Ahirnya sampai juga di makassar hari ini. Tepat jam lima sore kapal Tilong kabila sandar di pelabuhan Soekarno Hatta. Perjalanan yang melelahkan…….
Popor Senjata Tentara
Suatu waktu, dalam diskusi ringan, teman saya bercerita tentang pengalamannya dengan tentara. Ia menceritakan bahwa ia pernah merasakan yang namanya popor senjata tentara. Terus terang, seumur terlibat dalam aksi mahasiswa, yang namanya popor senjata belum sempat saya rasakan. Paling banter dikejar-kejar sama polisi ketika aksi di DPRD Sulsel tiga tahun lalu (tahun 2003). Pengalaman yang memilukan!. Saat itu dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Baginya, ini adalah pengalaman yang tak akan bisa dilupakan seumur hidupnya. Kebenciannya terhadap tentara terbawa-bawa hingga duduk di bangku kuliah. Celakanya lagi, kebenciannya terhadap tentara bertambah parah saat ia memilih menjadi aktifis sebagai kesehariannya. Ia lebih memilih menjadi aktifis pers mahasiswa. Karena pilihannya itulah, sehingga ia begitu familiar di kampus. Ketika terjadi pendudukan kampus oleh aparat keamanan (polisi) pasca tawuran dan pembakaran di fakultas teknik tahun 2002 lalu, ia pun masih menyimpan “trauma” terhadap yang namanya polisi dan tentara.
Bahkan ketika terjadi pengosongan paksa terhadap lembaga kemahasiswaan dan unit kegiatan mahasiswa (UKM), kami pun sempat “kepala batu” sedikit. Kami enggan meninggalkan sekertariat UKM. Saya dan teman saya tadi pun terpaksa meninggalkan sekeretariat UKM setelah dikepung oleh polisi bersenjata dan mahasiswa teknik yang masih “terluka”. Dengan megendari sepeda motor mereka memberi warning kepada kami melalui megaphone. Seluruh penghuni UKM diarahkan ke daerah pondokan (kos-kosan mahasiswa). Di sinilah terjadi insiden kecil, yakni pelemparan batu ke arah polisi. Polisipun menggertak dengan acungan senjata ke arah kami. Sebahagian dari kami, termasuk teman saya tadi berteriak, “kampus daerah steril bung!. Polisi dilarang menginjakan kakinya di kampus. Kami tidak butuh berdamai dengan senjata, kami bisa menyelesaikan masalah sendiri. Kami tidak butuh popor senjata. Heyyy… kalian!, kembalilah ke barak”. Akhir-akhir ini banyak perdebatan tentang tentara, baik di media cetak maupun elektronik. Perdebatan yang cukup menarik perhatian semua orang di negeri ini, saat tentara (TNI) kita merayakan hari jadinya yang ke-61 pada tanggal 5 Oktober 2006. Yakni keterlibatan tentara di ranah politik. Masihkah tentara tergiur dengan dunia politik? Entahlah, yang mampu menjawab itu hanyalah tentara sendiri. Saya hanya berharap: tentara kembalilah ke barak!
Halo, Apa Kabar Ospek?
Oleh: Aryanto Abidin
Jika hati anda bergetar melihat penindasan, maka lawanlah
sebab diam adalah bentuk penghianatan
(Ernesto ‘Che’ Guevara)
Halo!, apa kabar Ospek?. Masihkah kau seperti dulu?. Masihkah kekerasan sebagai make-up yang membungkus wajahmu? masihkah kekerasan menjadi pemanis ritualmu?. Prosesi penyambutan Mahasiswa Baru kalau tidak ingin disebut ‘Mangsa Baru’ bagi senior-seniornya. Betapa tidak, setiap mahasiswa baru mendapat perlakuan yang sangat tidak etis bahkan bisa dikatakan saling berjabat tangan dengan pelanggaran HAM (Penindasan,pemerasan dan kekerasan). Prosesi penyambutan mahasiswa baru atau yang lebih sakralnya disebut “OSPEK”, kini lagi marak-maraknya. Di kampus merah ini pun persiapan untuk penyambutan sudah disiapkan jauh-jauh hari. Bahkan konon kabarnya lebih baik program kerja yang lainnya tidak jalan ketimbang Ospek. Ospek seperti kita ketahui bersama sangat rentan dan memberi peluang bagi terjadinya kekerasan. Meskipun banyak pihak yang menentang ospek, namun hal itu dianggap angin lalu dan ospekpun “melenggang kangkung” menuai kekhawatiran di kalangan orang tua mahasiswa baru.
Dasar kita (baca: mahasiswa) memang tak pernah kehilangan akal. Dengan susah payah demi terlaksananya Ospek, lembaga-lembaga mahasiswa-pun menggagas yang namanya Ospek damai (mudah-mudahan bisa damai lahir maupun batin).
Untuk mempersiapkan ospek ini, lembaga-lembaga mahasiswa tingkat fakultas sudah memformatnya dua hingga tiga bulan sebelumnya. Bahkan untuk menciptakan Ospek Damai, mereka (baca: lembaga-lembaga Mahasiswa) sampai ‘Jatuh Bangun’ untuk membentuk suatu forum formal demi ter-Legitimate-nya kembali Ospek. Siapa sih yang mau melewatkan momen ospek ini ?. Selain merupakan lahan produktif untuk mengais rejeki nomplok, bagi senior-senior yang ingin ‘senter-senter’ maka ospeklah tempatnya. Bagi yang suka ‘pajak-pajak’ untuk sebungkus rokok atau satu botol Coca Cola, maka ospeklah tempatnya. Bagi senior-senior yang ‘Gila Hormat’, sangat sayang untuk melewatkan momen yang berharga ini.
Bagi para orang tua Mahasiswa Baru, ada kebanggan tersendiri di hati mereka sekaligus kedukaan yang mendalam. Kebanggan mereka adalah ketika mereka melihat nama anak-anak mereka terpampang di surat kabar atau pada saat hari pengumuman SPMB. Kedukaan mereka adalah ketika mendengar nama ospek. Ya, Ospek. Kata yang terdiri dari lima huruf ini tak jarang membuat ciut nyali. Ospek merupakan momok yang menakutkan yang kadang-kadang mengundang air mata, meminta darah, cacat fisik, dan tak jarang meminta nyawa tiap tahunnya sebagai tumbal egoisme senior. Anehnya lagi, seolah-olah peristiwa tersebut direstui pikiran dan hati nurani kita yang turut ambil bagian maupun yang memberi lampu hijau bagi terlaksananya ritual tersebut. Adakah hati kita bergetar melihat penindasan di depan mata kita. Maka kalau memang hati kita sudah seperti batu yang kokoh, lalu apa bedanya kita dengan binatang ?, atau bahkan lebih rendah daripada binatang. Mungkin kalimat tersebut tidak berlebihan karena mengingat manusia dibekali akal dan perasaan untuk memancarka nilai-nilai kemanusiaan di sekeliling kita. Bukankah tujuan penciptaan manusia dimuka bumi ini untuk menjadi khalifah?, dengan tujuan membumikan nilai-nilai ketuhanan. Kenapa kita tidak mencoba menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam setiap aktivitas kita.
Kampus (katanya) merupakan tempat ilmiah, kini berubah menjadi pusat ‘berhala-berhala’ baru, dimana manusia yang ada di dalamnya cenderung ingin mempertontonkan dirinya sebagai Tuhan. Dalam kaitannya dengan ritual tahuanan ini kita akan dingatkan tentang dongeng Lucifer. Ya!, Lucifer sang malikat jahat yang diusir dari surga, kemudian menjadi manusia yang berperawakan tampan dan gagah diatas muka bumi ini yang setiap saat sangat haus akan darah. Mungkin seperti itulah kita sekarang ini. Di Unhas sendiri sejak berdirinya sampai sekarang, entah sudah berapa banyak darah, air mata, cacat fisik, dan nyawa yang dipersembahakan untuk memuja roh egoisme dalam ritual tahunan tersebut. Para orang tua Maba harus menelan ludah ketika anaknya menyodorkan daftar perlengkapan ospek yang mirip dengan daftar menu yang ada di hotel-hotel mewah. Ditambah lagi dana kelembagaan, yang bila semuanya dijumlahkan bisa melampaui uang pendidikan selama satu semester. Ingat kawan, Orang yang menginjakan kakinya (baca: kuliah) di Unhas ini bukanlah orang-orang dari golongan menengah ke atas saja. Ada beragam golongan yang kuliah di Unhas ini dan dengan berbagai latar belakang ekonomi yang beragam pula. Ada yang ekonominya menengah ke atas, kelas menegah dan kelas menengah ke bawah, mungkin aku masuk golongan yang terakhir ini. Bagi golongan menengah atas, uang sebesar ratusan ribu mungkin hanyalah jumlah nominal tagihan telepon mereka tiap bulan. Akan tetapi bagi golongan menengah ke bawah, jumlah nominal tersebut harus dengan bercucuran keringat atau pontang-panting meminjam ke tetangga. Kalupun kedua alternatif tersebut sudah tidak mungkin, mungkin jalan terakhir adalah meminjam pada rentenir dengan tawaran bunga yang tinggi yang kian hari kian membengkak.
Mereka harus rela menunggu anaknya di gerbang-gerbang fakultas hanya untuk menantikan detik-detik terakhir episode pembantaian tersebut. Mereka tidak pernah bermimpi bahwa sesampainya anak-anak mereka di pintu gerbang kampus, kemerdekaan mereka direnggut, darah mengalir, pulang dengan cacat pada bagian tubuh ataupun nyawa melayang. Toh mereka tetap tabah, hanya air matalah yang menjadi luapan emosi mereka. Dimana nurani kemanusiaan kita?. Apakah untuk membentuk karakter mahasiswa baru yang militant, kritis dan tercerahkan harus dengan kekerasan?. Tidak. Sekedar catatan, bahwa kekerasan tidak akan pernah membentuk pribadi yang militant, kritis dan tercerahkan akan tetapi justru akan membentuk karakter preman di kalangan mahasiswa baru serta melahirkan penindas-penindas baru dalam kampus ini. Sepertinya hal ini akan menjadi rantai setan yang sangat sulit diputuskan jika nuansa kekerasan masih mewarnai di setiap prosesi penyambutan mahasiswa baru. Ingat!, untuk membentuk karakter mahasiswa baru yang militant, kritis, dan tercerahkan tidak cukup dalam waktu hitungan hari akan tetapi butuh waktu dan proses yang lama.
Bagi orang tua Maba, ketika menyaksikan anaknya menjadi mahasiswa setidaknya memberi sedikit harapan atas mimpi-mimpi mereka tentang masa depan anaknya. Ospek yang memang sudah masuk dalam ‘buku hitam’ orang tua Mahasiswa Baru, bahkan sudah menjadi catatan kebencian bagi mereka. Seandaianya mereka diminta untuk menulisnya, maka Ia akan menuliskannya pada lembaran pertama buku hitamnya dengan menggunakan tinta berwarna “ sedih dan prihatin”.
Tindakan yang yang tidak sepantasnya dilakukan oleh sosok yang berlebel mahasiswa (Penidasan,pemerasan bahkan sampai pada pelecehan……???). Mahasiswa ! ya mahasiswa, konon kabarnya kelompok The middle Class yang satu ini mengkalaim dirinya sebagai kelompok yang anti penidasan, kelompok yang mewakili orang-orang tertindas, kelompok yang mewakili suara rakyat. Saya sangat ngeri ketika saya mengklaim diri saya sebagai orang yang anti penindasan lewat sumpah mahasiswa. Sumpah yang diucapakan secara lisan dan tidak pernah dimaknai itu, hanyalah formalitas atau ritual belaka ketika seseorang pertama kali memakai baju kebesarannya yang di depannya bertuliskan mahasiswa dan dengan dada membusung, kita tampil sebagai hero kesiangan. Saya takut nanti kita (baca: Mahasiswa) di cap sebagai ‘maling’, maksud saya maling teriak maling. Di satu sisi kita benci yang namanya penindasan dan kroni-kroninya, akan tetapi di lain pihak kita sendirilah yang mempeloporinya. Bahkan kita mengabadikannya dalam sebuah sumpah, Sumpah Mahasiswa. Ya…! Sumpah Mahasiswa yang sudah mulai mengalami distorsi makna dan esensinya ini. Adalah bukan hal yang tidak mungkin ketika dua puluh tahun atau tiga puluh tahun yang akan datang sumpah mahasiswa tidak dibutuhkan lagi, baik dari segi makna mapun dari esensi. Atau mungkin sebaiknya diganti dengan sumpah binatang, [Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa binatang], [Kami mahasiswa Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air penindasan] [Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbahasa satu bahasa kekerasan]. Wallahualambishawaab.
Malu Aku Bicara Komitmen
Oleh: Aryanto Abidin
Beberapa hari terakhir ini, saya begitu resah. Resah dengan segala yang membuat saya resah. Bahkan hampir-hampir Tuhan pun saya abaikan. Sepertinya, untuk permasalahan ini, saya harus istighfar sebanyak-banyaknya (maafkan aku Tuhan. Ijinkan aku mencintaimu sekali lagi). Keresahan itu selalu mengganggu pikiran dan jiwa saya. Resah dengan negeri ini, resah dengan manusia indonesia, resah dengan perempuan indonesia, resah dengan penguasa dan pejabat di negeri ini. Resah dengan mahasiswa indonesia, resah dengan prilaku primitif mahasiswa makassasr, resah dengan kampusku yang nir-makna dan nir-nilai, dimana idealisme dipecundangi. Ruang dialog tertutup rapat, dosen yang arogan dan masih banyak kebejatan-kebejatan lain yang lahir dari kampus kita. Maka jangan heran, ada mahasiswa yang mengaku aktivis, padahal aktivis karbitan. Ada juga yang mengaku aktivis, membela yang tertindas tapi uang bencana Aceh pun dibawa kabur. Atau mengaku aktivis untuk menggombal si mahasiswi. Ada lagi yang lebih hancur, ada aktivis yang bicara serba ideal kalo dalam forum. Eh, setelah diluar forum berperilaku bejat. Alih-alih menanamkan idealisme pada adik-adik angkatannya, eh, ternyata ujung-ujungnya minta alamat dan nomor ponsel/telepon (bersyukurlah anda tidak menjadi korbannya). Makanya kamu harus hati-hati dengan senior yang seperti ini. Mungkin inilah gambaran dari produk kampus yang bejat dan nir-makna serta jauh nilai-nilai akademis dan moralitas. Apakah ini bentuk komitmen yang tercederai dari sebuah istitusi pendidikan?
Ada hal yang saya lupa sebutkan. Tentu saja, saya harus resah dengan diri sendiri. Resah dengan masa depan saya, resah dengan ilmu yang selama ini saya tekuni. Saya selalu dikejar-kejar dan diteror oleh pertanyan-pertanyaan, akankah saya mampu mempertanggung jawabkannya ketika harus bersentuhan dengan masyarakat? Saya juga resah dengan status kemahasiswaan saya. Akankah kita tetap eksis setelah tidak lagi menjadi penguasa (baca:mahasiswa) di kampus? Mampukah kita melakukan perubahan sosial dalam masyarakat kita? Fenomena post power syndrome (baca:sebuah ketakutan atau kecemasan setelah tidak lagi berkuasa) merupakan pil pahit yang membunuh asa dan semangat saya (mungkin juga anda). Akankah ini adalah gejala runtuhnya bangunan idealisme yang saya bangun terhadap pilihan saya, perlahan mulai terkikis?. Sepertinya, untuk urusan yang satu ini, saya tidak akan membiarkan kepada waktu utuk menjawab atau menuntaskan semua ini.
Keresahan saya semakin memuncak. Awal Juli lalu, ponsel saya disesaki oleh missed call nomor misterius. Tukang missed call gelap ini mengusik saya hampir setiap hari dalam seminggu. Padahal saya tidak pernah membangun ruang konflik dengan siapapun. Atau memberikan ruang untuk tumbuhnya apa yang disebut dengan Virus Merah Maroon (VMM) (ini usulan baru untuk dijadikan sebuah terminologi). Hingga sampai-sampai si tukang missed call tersebut berani-beraninya mengunkapkan-lewat SMS- bahwa ia fall in love ke saya (“lho kok saya jadi bahas yang ginian sih. ga mutu, tau nggak?”). Apa ini nggak gila? Peristiwa ini membuat saya harus merenung dan banyak introspeksi diri. Bahkan berkeping tanya selalu memburu nalar saya. Apa penampilan saya kurang meyakinkan untuk disebut sebagai ustadz? Hingga si tukang missed call tadi berani-beraninya menyatakan fall in love ke saya. Jenggot sudah ada, titik hitam di jidat ada juga. Lalu kurang apalagi dari saya? Oh, saya tahu!!. Mungkin celana saya kurang menggantung. Atau baju koko tidak menempel di badan saya. Mungkikah ini adalah wujud komitmen yang terrenggut? Hingga untuk menegaskan identitas saja begitu separuh napas dalam mempraksiskannya. Sayapun berkesimpulan, ternyata untuk menciptakan identitas tidak cukup dengan simbol.
O ya, saya hampir lupa. Ada lagi yang membuat saya resah. Resah dengan sebuah komunitas. Komunitas yang selama ini tempat saya mencurahkan waktu, tenaga dan pikiran saya. Sebuah kominitas yang begitu komitmen menegakan kalimat ilahiyah dan selalu berpegang teguh pada sunnah Rasul. Komunitas tersebut adalah komunitas tarbiyyah.. Demikianlah komunitas yang saya maksud. Doktrin-doktrin dakwah begitu kental yang selalu mewarnai orang-orang yang tergaung dalam komunitas ini. Ukhuwah yang juga merupakan rukun ke sembilan dalam rukun bai’at menjadi perekatnya. Komitmen dan konsisten menjadi kata sakti yang bertebaran di setiap rapat-rapat. Kadang-kadang saya bertanya, seperti apa sih komitmen yang kita maksud? Hingga kita begitu mudah mengobralnya tanpa mepertimbangankannya masak-masak. Apa ini yang disebut dengan Asbun (baca: asal bunyi), “tong kosong cantik bunyinya” (meminjam judul tulisan salah seorang akhwat). Eh, salah ya?. Tong kosong nyaring bunyinya. Yang ini yang betul.
Bagi saya, kata komitmen adalah kata yang sakral. Ia adalah totalitas. Lalu pertanyaannya kemudian, dimana letak sakralnya? Seperti yang saya sebutkan tadi, letak sakralnya sebuah komitmen adalah pada totalitasnya. Ketika kita berbicara totalitas, maka ada beberapa variabel yang harus kita pegang erat-erat. Beberapa variabel tersebut adalah ikhlas, pengorbanan, amal atau kerja nyata, ketaatan, dan dedikasi. Ketika kita melafalkan tentang komitmen, maka kitapun harus melakoni variabel di atas. Tentu, kita juga harus siap dengan segala konsekwensi yang akan muncul di kemudian hari. Oleh karenanya, setiap pilihan sadar kita adalah totalitas. Karna, kalau tidak seperti itu, kita akan ditertawakan oleh peradaban. Sehingga diharapkan nantinya, tidak ada lagi wilayah yang abu-abu dalam menjalaninnya.
Kadang kita tidak pernah berpikir bahwa amanah itu akan jatuh pada pundak kita. Apalagi kalau sudah bersentuhan dengan doktrin dakwah. Maka, seribu satu alasanpun yang diungkapkan menjadi gugur tatkala kepentingan dakwah begitu menginginkan kita. Kenapa demikian? Karena dalam logika jamaah, satu-satunya yang berharga adalah kadernya atau anggotanya. Tapi ingat!, dakwah tak kenal henti, ada dan tidak adanya kita di dalamnya. Kalimat itu begitu nyaring di telinga saya. Menampar seisi jiwa, untuk tersadarkan kembali dan mengingat masa-masa manis bersama iman dan ruhiyyah yang kokoh. Bahkan saya harus berfikir ulang untuk mencoba menghianatinya (baca:dakwah). Namun, saya harus menggugat ulang kepada mereka yang menggunakan doktrin tersebut hanya ingin dibilang sebagai militan atau pejuang dakwah. Sementara dalam tataran pelaksanaannya bernyali ciut, bermental krupuk. Maka, jangan pernah menolak amanah dakwah itu. Menyakitkan memang!, disaat kita sedang bergelimangan amanah, sementara di sisi lain mereka yang menyebut dirinya juga “aktivis dakwah” begitu terlena dengan rutinitas mereka. Maka sayapun bertanya-tanya, apa iya kita akan mampu berkomitmen seperti itu?. Saya kadang ragu dengan itu semua. Indikasinya jelas. Menolak amanah salah satu contohnya. Atau jangan-jangan doktrin tersebut hanya pepesan kosong. Maka, saya mencoba meminjam istilah teman saya “nggak usah banyak ngomong Bos!”. Kalau memang anda punya komitmen, maka saya mencoba memenggal kalimat dalam sebuah iklan rokok, mana ekspresi lu?.
Kemerdekaan berpikir, melahirkan tulisan ini. Ya Allah jika jalan dakwah ini begitu panjang, maka berikan kami kekuatan untuk sampai pada jalan tersebut.Ya Allah, jika beban dakwah ini begitu berat,
maka kuatkanlah punggung kami untuk menerima beban tersebut. Jangan bersedih anak muda. Biarkan Rabb-mu saja yang menghapus peluh dan segala keluh kesahmu mu.t
Pekat
Tak ada temaram malam ini
Sekedar mengusir gelap di lubuk jiwaku
Menghapus mendung yang sedang mencumbui ruang di hatiku
Hanya rintihan jangkrik turut meramaikan simphoni malam pekat
Pekat malam ini
Tak ada penanda masa depan
Seolah Membahasakan kepadaku
Tak ada masa depan di negeri ini
Pekat malam ini
Hanya bintang-bintang mencoba merayu
Memberi pijar pada lubuk jiwaku yang gelap
Menepis keresahan
Memberi jawaban atas keraguan pada kemahaan-Nya
Malamku berujung
Sebelum waktu merampas waktuku
Aku ingin bersaksi
Tentang sujudnya bintang-bintang
Kepada sang pemilik waktu
Malamku usai
Ada asa baru mulai menyesak di ufuk sana
Pertanda bintang-bintang tak lagi bintang
Aku ingin mejemput asa itu
Bermujahadah untuk kokoh di jalan-Nya
Seperti kokohnya karang
Tatkala ombak mebelainya dengan ganas
Bintang-bintang tak lagi bintang
Bintang-bintang kembali membintang
Tatkala senja mulai layu
Lalu pekat membawanya kembali membintang.
Mega Buana, Saat Senja mulai layu ku tumpahkan semua di sini
-2 hari menjelang Kongres Kema Unhas (18 Juli 2006)
Ada yang harus ditangisi
Ada rasa mulai hilang
Saat jiwa tak lagi mencumbui Rabb-Nya
Saat lidah tak lagi keluh bertasbih menyebut nama-Nya
Saat lupa menyesaki tiap desah nafas
Saat Kesombongan mulai liar
Saat dunia begitu melenakan
Semuanya menjadi kering
Linear dengan hatiku yang sedang kemarau
Oh…, mengapa rasa itu harus merasaiku?
Tatkala aku sedang mendendangkan senandung mujahid muda
Pengecut!
Lirih itu membuncah dari ruang hatiku
Seperti sunami
Melumat Seisi jiwaku
Meluluhlantahkan keegoan
Yang sedang berdiri mengangkang
Di atas jiwa yang tandus
Untuk tersadar seketika
Membuatku ingin muntah
Memuntahkan penat yang selama ini mencumbui jiwaku
Rasa itu
Seperti sepoi yang membelai nyiur
Perlahan membunuhku
Melawan adalah keabadian
Takluk adalah penghianatan
Penghianatan atas penghambaan
Takluk adalah pengecut
Batinku berbisik lirih
Tak ada tempat bagi pengecut
Karena negeri ini tidak dibangun dari jiwa yang pengecut
Saatnya bangkit anak muda
Kontempelasi hari ketiga Kongres Mahasiswa Unhas
Wisma Depsos Banti murung jam 8 pagi di
Terlalu banyak untuk dikhianati. Tak ada tempat bagi pengecut,
tak ada tempat bagi penghianat. Tak boleh ada kata mundur,
karena mundur adalah sebuah pengingkaran.
Mengingkari realitas kehambaan.
Kehambaan yang dipersaksikan saat di alam rahim.
Sekali lagi, Saatnya Bangkit Anak Muda (SABAM)
Ditulis Oleh: M. Luqman Hakimdikirim oleh RosalinaWudlu' kita sehari-hari, ternyata tidak sekadar
menghantar kita semua, untuk hidup dan bangkit darikegelapan jiwa. Dalam Wudlu'lah segala masalah duniahingga akhirat disucikan, diselesaikan dandibangkitkan kembali menjadi hamba-hamba yang siapmenghadap kepada Allah SWT. Bahkan dari titik-titik gerakan dan posisi yangdibasuh air, ada titik-titik sentral kehambaan yangluar biasa. Itulah, mengapa para Sufi senantiasamemiliki Wudlu' secara abadi, menjaganya dalam kondisidan situasi apa pun, ketika mereka batal Wudlu,langsung mengambil Wudlu seketika.Mari kita buka jendela hati kita. Disana ada ayatAllah, khusus mengenai Wudlu. "Wahai orang-orang yang beriman, apabila engkau hendakmendirikan sholat, maka basuhlah wajahmu dan keduatanganmu sampai siku-siku, dan usaplah pada kepalamudan kaki-kakimu sampai kedua mata kaki "Manusia yang mengaku beriman, apabila hendak bangkitmenuju Allah ia harus berwudlu' jiwanya. Ia bangkitdari kealpaan demi kealpaan, bangkit dari kegelapandemi kegelapan, bangkit dari lorong-lorong sempitduniawi dan mimpi di tidur panjang hawa nafsunya. Ia harus bangkit dan hadlir di hadapan Allah, memasuki"Sholat" hakikat dalam munajat demi munajat, sampai iaberhadapan dan menghadap Allah. Sebelum membasuh muka, kita mencuci tangan-tangan kitasembari bermunajat:Ya Allah, kami mohon anugerah dan barokah, dan kamiberlindung kepadaMu dari keburukan dan kehancuran. Lalu kita masukkan air untuk kumur-kumur di mulutkita. Mulut kita adalah alat dari mulut hati kita.Mulut kita banyak kotoran kata-kata, banyakucapan-ucapan berbusakan hawa nafsu dan syahwat kita,lalu mulut kita adalah mulut syetan. Mulut kita lebih banyak menjadi lobang besar bagilorong-lorong yang beronggakan semesta duniawi. Yangkeluar dan masuknya hanyalah hembusan panasnya nafsudan dinginnya hati yang membeku.Betapa banyak dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits, betapaberlimpah ruahnya fatwa amar ma'ruf nahi mungkar,tetapi karena keluar dari mulut yang kotor, hanyalahberbau anyir dalam sengak hidung jiwa kita. Karenayang mendorong amar ma'ruf nahi mungkarnya bukanAlllah, tetapi hasrat hawa nafsunya, lalu ketikakeluar dari jendela bibirnya, kata-kata indah hanyalahbau anyir najis dalam hatinya. Sesungguhnya mulut-mulut itu sudah membisu, karenayang berkata adalah hawa nafsu. Ayo, kita masuki airIlahiyah agar kita berkumur setiap waktu.Bermunajatlah ketika anda berkumur:Oh, Tuhan, masukkanlah padaku tempat masuk yang benar,dan keluarkanlah diriku di tempat keluar yang benar,dan jadikanlah diriku dari DiriMu, bahwa Engkau adalahKuasa Yang Menolongku. Oh Tuhan, tolonglah daku untuk selalu membaca KitabMudan dzikir yang sebanyak-banyaknya, dan tetapkanlahaku dengan ucapan yang tegas di dunia maupun diakhirat. Baru kemudian kita masukkan air suci yang menyucikanitu, pada hidung kita. Hidung yang suka mencium aromawewangian syahwat dunia, lalu jauh dari aroma syurga.Hidung yang menafaskan ciuman mesra, tetapitersirnakan dari kemesraan ciuman hakiki diSinggasanaNya.Oh, Tuhan, aromakan wewangian syurgaMu dan Engkaumelimpahkan ridloMu Semburkan air itu dari hidungmu, sembari munajatkanYa Allah, aku berlindung kepadaMu dari aroma busuknyaneraka, dan bau busuknya dunia. Selanjutnya:"Basuhlah wajah-wajahmu " Dengan menyucikan hatimu dengan air pengetahuan yangmanfaat yang suci dan menyucikan, baik itu bersifatpengetahuan syariat, maupun pengetahuan hakikat, sertapengetahuan yang bisa menghapus seluruhpenghalang-penghalang, hijab, antara dirinya danAllah.Faktanya setiap hari kita Wudlu' membasuh muka kita,tetapi wajah-wajah kita tidak hadir menghadap Allah,tidak "Fa ainamaa tuwalluu fatsamma wajhullah "(kemana pun engkau menghadap, wajah hatimu menghadaparah Allah).Kenapa wajah dunia, wajah makhluk, wajah-wajahkepentingan nafsu kita, wajah-wajah semesta, wajahdunia dan akhirat, masih terus menghalangi tatapmukahati anda kepada Allah Ta'ala? Ini semua karenakebatilan demi kebatilan, baik kebatilan dibalik wajahbatil maupun kebatilan dengan selimut wajah kebenaran,telah membatalkan wudlu jiwa kita, dan sama sekalitidak kita sucikan dengan air pengetahuanma'rifatullah dan pengetahuan yang menyelamatkan duniaakhirat kita. Hijab-hijab yang menutupi wajah jiwa kita untukmelihat Allah, sudah terlalu tua untuk menjadi topenghidup kita. Kita bertopeng kebusukan, bertopengrekayasa, bertopeng kedudukan dan ambisi kita,bertopeng fasilitas duniawi kita, bertopeng hawa nafsukita sendiri, bahkan bertopeng ilmu pengetahuan kitaserta imajinasi-imajinasi kita atau jubah-jubah agamasekali pun.Lalu wajah kita bopeng, wajah ummat kita penuh dengancakar-cakar nafsu kita, torehan-torehan noda kita,flek-flek hitam nafsu kita, dan alangkah bangganyakita dengan wajah-wajah kita yang dijadikan landskapsyetan, yang begitu bebas menarikan tangan-tangannyauntuk melukis hati kita dengan tinta hitam yangdipanggang di atas jahanam.Karena wajah kita lebih senang berpaling, berselingkuhdengan dunia, berpesta dalam mabuk syetan, bergincudunia, berparas dengan olesan-olesan kesemuan hidup,lalu memakai cadar-cadar hitam kegelapan semestakemakhlukan. Banyak orang yang mata kepalanya terbuka, tetapimatahatinya tertutup. Banyak orang yang mata kepalanyatertutup, matahatinya terbuka. Banyak orang yangmatahatinya terbuka tetapi bertabur debu-debukemunafikan duniawinya. Banyak orang yang sudah tidaklagi membuka matahatinya, dan ia kehilangan CahayaIlahi, lalu menikmati kepejaman matahatinya dalamkegelapan, yang menyangka ia dalam kebenaran dankenikmatan. Oh, Allah, bersihkan wajahkku dengan cahayaMu,sebagaimana di hari Engkau putihkan wajah-wajahKekasihMu. Ya Allah janganlah Engkau hitamkan wajahkudengan kegelapanMu, di hari, dimana Engkau gelapkanwajah-wajah musuhMu. Tuhan, sibakkan cadar hitamku dari tirai yangmembugkus hatiku untuk memandangMu, sebagaimana Engkaubuka cadar para KekasihMu "Dan basuhlah kedua tanganmu sampai keduasiku-sikumu " Lalu kita basuh kedua tangan kita yang seringmenggapai hasrat nafsu syahwat kita, berkiprah dilembah kotor dan najis jiwa kita, sampai pada tahapsiku-siku hakikat kita dan manfaat agung yang ada disana.Tangan kita telah mencuri hati kita, lalu ruang jiwakita kehilangan khazanah hakikat Cahaya hati. Tangannafsu kita telah mengkorupsi amanah-amanah Ilahi dalamjiwa, lalu kita mendapatkan pundi-pundi duniawi penuhkealpaan dan kemunafikan. Tangan-tangan kita telah merampas makanan-makanankefakiran kita, kebutuhan hati kita, memaksa danmemperkosa hati kita untuk dijadikan tunggangan liarnafsu kita. Tangan-tangan kita telah memukul danmenampar wajah hati yang menghadap Allah, menudingmuka-muka jiwa yang menghadap Allah, merobek-robekpakaian pengantin yang bermahkotakan riasan indah paraSufi. Maka basuhlah tanganmu dengan air kecintaan, denganbeningnya cermin ma'rifat, dari mata air dari bengawansyurga.Basuhlah tangan kananmu, sembari munajat:Oh, Allah..berikanlah Kitabku melalui tangan kananku,dan hitanglah amalku dengan hitungan yangseringan-ringannya. Basuhlah tangan kririmu dengan munajat:Oh, Allah, aku berlindung kepadaMu, dari pemberiankitabku dari tangan kiriku atau dari belakangpunggungku Lalu, mari kita usap kepala kita:Karena kepala kita telah bertabur debu-debu yangmengotori hati kita, memaksa hati kita mengikutiselera pikiran kira, sampai hati kita bukan lagimenghadap kepadaNya, tetapi menghadap seperti caramenghadap wajah di kepala kita, yaitu menghadap duniayang hina dan rendah ini. Pada kepala kita yang sering menunduk pada dunia, padawujud semesta, tunduk dalam pemberhalaan danperbudakan makhluk, tanpa hati kita menunduk kepadaAllah Ta'ala, kepada Asma-asmaNya yang tersembunyidibalik semesta lahir dan batin kita, lalu kepala kitamemalingkan wajah hati kita untuk berpindah ke lainwajah hati yang hakiki. Mari kita usap dengan air Cahaya, agar wajah hati kitabersinar kembali, tidak menghadap ke arahremang-remang yang menuju gelap yang berlapis gulita,tidak lagi menengok pada rimba duniawi yang dipenuhikebuasan dan liar kebinatangannya.Kepala-kepala kita sering menunduk padaberhala-berhala yang mengitari hati kita. Padahal hatikita adalah Baitullah, Rumah Ilahi. Betapa kita sangattidak beradab dan bahkan membangun kemusyrikan,mengatasnamakan Rumah Tuhan, tetapi demi kepentinganberhala-berhala yang kita bangun dari tonggak-tonggaknafsu kita, lalu kita sembah dengan ritual-ritualsyetan, imajinasi-imajinasi, kebanggaan-kebanggan,lalu begitu sombongnya kepala kita terangkat danmendongak. Mari kita usap kepala kita dengan usapan Kasih SayangIlahi. Karena kepala kita telah terpanggang panasnyaneraka duniawi, terpanaskan oleh ambisi amarah danemosi nafsu syahwati, terjemur di hamparan mahsyarduniawi.Sembari kita mengusap, masti munajat:Oh Allah, payungi kepalaku dengan Payung RahmatMu,turunkan padaku berkah-berkahMu, dan lindungi dirikudengan perlindungan payung ArasyMu, dihari ketikatidak ada lagi paying kecuali payungMu. Oh,Tuhan .jauhkan rambutku dan kulitku dari neraka Oh Usap kedua telingamu. Telinga yang sering mendengarkanparaunya dunia, yang anda kira sebagai kemerduan musikpara bidadari syurga. Telinga yang berbisik kebusukandan kedustaan, telinga yang menikmati gunjingan demigunjingan. Telinga yang fantastik dengan mendengarkanindahnya musik duniawi, lalu menutup telinga ketikasuara-suara kebenaran bersautan. Amboi, kenapatelingamu seperti telinga orang-orang munafik?Apakah anda lebih senang menjadi orang-orang yang tulitelinga hatinya? Munajatlah:Oh Tuhan, jadikan diriku tergolong orang-orang yangmendengarkan ucapan yang benar dan mengikuti yangpaling baik. Tuhan, perdengarkan telingakupanggilan-panggilan syurga di dalam syurga bersamahamba-hambaMu yang baik. Lalu usaplah tengkukmu, sembari berdoa:Ya Allah, bebaskan diriku dari belenggu neraka, danaku berlindung kepadaMu dari belenggu demi belengguyang merantai diriku. Lalu basuh kaki-kakimu sampai kedua mata kaki: Kaki-kaki yang melangkahkan pijakannya kea lam duniasemesta, yang berlari mengejar syahwat dan kehinaan,yang bergegas dalam pijakan kenikmatan dan kelezatanpesonanya.Kaki-kaki yang sering terpeleset ke jurang kemunafikandan kezaliman, terluka oleh syahwat dan emosinya, olehdendam, iri dan dengkinya, haruslah segera dibasuhdengan air akhlaq, air yang berumber dari adab, danbermuara ke samudera Ilahiyah. Basuhlah kedua kakimu sampai kedua matakakimu. Agarlangkah-langkahmu menjadi semangat baru untuk bangkitmenuju Allah, menapak tilas Jalan Allah, secepat kilatmelesat menuju Allah. Basuhlah dengan air salsabila,yang mengaliri wajah semesta menjadi jalan luruslempang menuju Tuhan.Selebihnya, Wudlu adalah Taubat, penyucian jiwa,pembersihan batin, di lembah Istighfar. Jangan lupakanIstighfar setiap basuhan anggota wudlumu.Wallahu A'lam.
Piala dunia 2006 di Jerman hampir usai. 32 Tim dari negara dan benua berbeda turut meramaikan gelar sepak bola akbar di jagad ini. Di penghujung ritual empat tahunan ini hanya menyisahkan empat tim yakni Jerman Italia, Portugal dan Prancis. Empat tim tersebut lolos ke babak semifinal. Semua tim berasal dari benua Eropa. Piala dunia kali ini tak pantas kita sebut sebagai piala dunia, mungkin lebih pantas disebut sebagai piala Eropa. 28 tim telah tersingkir dari obsesi untuk menggenggam tropy bergengsi tersebut. Mulai dari tim yang tidak masuk dalam daftar favorit juara sampai pada tim yang menjadi favorit juara. Bagi tim yang tak diunggulkan, lolos ke piala dunia merupakan suatu kesukuran. Beda halnya jika tim sebesar Brasil, Argentina, Cekoslovakia dan Spanyol yang harus pulang lebih awal. Tim-tim tersebut kali ini harus mengubur ambisinya untuk menjadi juara dunia. Bahkan tim samba Brasil harus menerima cacian dari sekitar 300 pendukungnya sendiri di jerman ketika hendak meninggalkan Jerman. Brasil dicaci maki lantaran meninggalkan permainan cantik khas negara mereka. Brasil ditaklukan oleh pasukan yang di pimpin oleh Zinedin Zidane dengan skor 1-0 pada menit-menit akhir. Sungguh menyakitkan!. Brasil gagal menjadi juara, sekaligus gagal meperlihatkan ke publik permainan cantik khas Brasil. Lain halnya dengan Argentina. Argentina harus takluk di tangan Bllack dan pasukannya. Argentina kalah dengan terhormat melalui drama adu pinalti dengan skor 4-2 untuk kemenangan Jerman.
Jerman kalah
Setelah lolos ke partai semi final, Jerman harus berhadapan dengan tim tangguh Italia. Keduanya harus bermain ngotot jika ingin maju ke babak final. Dan benar saja, keduanya menampilkan permainan menyerang yang memukau. Jerman kebobolan satu gol lewat kaki striker Luca Toni. Jerman tak menyerah. Kebobolan satu gol justru membuat tim Jerman bermain menyerang. Sayangnya, karena keasikan menyerang Jerman kewalahan menangkal serangan balik Italia. Jerman kebobolan lagi lewat kaki Del Piero. Kekalahan yang menyakitkan!. Betapa tidak di menit-menit terakhir, Luca Toni berhasil mencuri kemenangan dari Jerman, 1-0 untuk tim Italia. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah Del Piero berhasil mencuri satu gol di tiga menit terakhir hingga kedudukan menjadi 2-0. Jerman takluk oleh pasukan yang dipimpin oleh Francesco Toti. Italia melaju ke final, Jerman kalah. Pendukung Jerman berurai air mata. Selanjutnya, Jerman akan berlaga untuk memperebutkan posisi ke tiga. Sesaat setelah Del Piero menambah gol untuk italia, butiran-butiran hangat memenuhi kelopak mata saya. Saya bersedih atas kekalahan Jerman. Sungguh, ini adalah kekalahan yang menyakitkan. Kendati demikian Jerman telah membuktikan dirinya sebagai tim yang mampu bermain menyerang, bukan bermain bertahan. Di bawah asuhan Klinsmann, Jerman berhasil menunjukan kepada publik permainan cepat dan cantik dengan sentuhan indah. Yang lebih membaggakan lagi Jerman tetap memperlihatkan sportivitasnya. Sangat beda dengan Argentina. Negara sepak bola itu, tidak bisa menerima kekalahan. Kehadiran Kanselir Jerman, Angela Merkel di setiap pertandingan Jerman, memberi semangat baru buat Jerman. Angela Merkel yang hadir di kerumunan pendukung Jerman turut menghibur suporter Jerman. Jerman harus mengakui ketangguhan Italia. Bravo Italia!.baca juga
di sini
Oleh Aryanto Abidin
Penulis adalah Peminat dan Penikmat Bola serta Pendukung Jerman
Siapa yang menyangka, kalau Argentina harus takluk pada tim Panser Jerman. Semula tidak ada yang menduga, bahwa Jerman akan mengalahkan Argentina di babak perempat final. Bahkan Oleh sebahagian orang, Argentina diprediksikan akan menang telak. Kehadiran sang titisan Maradona, Leonel Messi justru meperkuat keyakinan penggemar Argentina, bahwa tim kesayangan mereka akan lolos ke semi final. Penampilan Messi yang cemerlang saat melawan Serbia Montenegro dengan skor 6-0 juga menjadi suatu keyakinan tersendiri bagi penggemar Argentina. Terlebih melihat permainan yang berlangsung di stadion Olimpic itu, justru didominasi oleh anak asuhan pelatih Jose Pakerman. Berkali-kali Argentina terus menggedor daerah pertahanan Jerman yang dikawal oleh Philip Lahm, Per Mertesakcer, Cristoph Metzelder dan Arne Friedrich. Bahkan ujung tombak Argentina, Juan Roman Requelmi dan Hernan Crespo berkali-kali menusuk daerah pertahanan Jerman, untuk kemudian melepaskan tendangan kea rah gawang Jerman. Usaha anak-anak asuhan Pakerman berbuah manis. Pada awal babak kedua yakni pada menit ke-49, Roberto Ayala menggetarkan jala gawang Jerman yang dikawal Jens Lehman. Gol manis tersebut, tercipta lewat tendangan sudut yang dieksekusi oleh Juan Roman Requelmi. Jens Lehman rela memungut Bola dari gawangnya. 1-0 untuk Argentina. Argentina memimpin.
Tertinggal 1-0, membuat Klinsmann harus memutar otak. Klinsmann melihat anak-anak asuhnya memilki kelemahan dalam menembus barisan pertahanan Argentina. Barisan yang kokoh itu dikawal Juan Sorin dkk. Untuk itu, Klinsmann memasukan gelandang pendobrak Odonkor di susul kemudian Tim Borowski. Odonkor diharapkan mampu berduel dengan Juan Sorin yang sangat sulit di lewati. Alhasil, masuknya Odonkor yang kemudian di susul Borowski, mampu memberikan nyawa tambahan bagi tim Jerman. Berkali-kali Jerman membangun serangan dengan tempo yang cepat. Sesekali Odonkor juga mampu memperdayai Juan Sorin dan mengarahkan bola ke gawang Argentina. Namun masih dapat dihalau oleh penjaga gawang Argentina. Strategi Klismann berbuah manis, di menit ke-80, lewat umpan lambung dari sayap kiri lapangan, Ballack dan disambut kepala oleh Borowski. Lewat kepala Borowski diteruskan ke Klose dan menyundulkan kea rah gawang Argentina. Gol pun tercipta, 1-1 untuk Jerman. sepertinys saya harus mengangkat jempol untuk pelatih kelahiran 42 tahun lalu itu. “Klinsmann engkau memang benar-benar jenius!”.
Berbeda dengan Klinsmann, pelatih Argentina Jose Pakerman justru melakukan blunder setelah anak asuhannya mencetak satu gol untuk Argentina. Jerman yang mendapat tambahan nyawa setelah masuknya Odonkor dan Borowski, rupanya membuat Pakerman gentar. Pakerman menganggap serangan Jerman adalah ancaman yang dapat mebuahkan gol. Maka Pakerman mengambil kesimpulan untuk menerapkan permainan bertahan. Pakerman menarik striker andalan mereka, Hernan Crespo yang digantikan oleh Esteban Cambiasso. Sementara Requelmi digantikan oleh Cruz. Keputusan ini oleh public Argentina dianggap sebagai keputusan yang kontroversi. Yang lebih menyakitkan lagi adalah pemain yang dijuluki dengan “the new Maradona” Lionel Messi tidak diberi kesempatan untuk bermain. Sepertinya Jose Pakerman harus jeli dalam mengambil keputusan. Pakerman Blunder. Lionel Messi dikhianati, Pakerman pun mengundurkan diri sebagai pelatih dari timnas
Piala dunia 2006 ini boleh jadi merupakan ujian terberat bagi Jurgen Klinsmann. Betapa tidak, Sejak dipercaya menangani timnas Jerman sejak tahun 2004 lalu, Jurgen Klinsmann dikritik oleh publiknya sendiri.
Pelatih Jerman, Jurgen Klinsmann
Bahkan Klinsmann menjadi bulan-bulanan pers Jerman dengan mengatakan Klinsmann tidak pantas melatih tim Jerman. Klinsmann tidak memiliki pengalaman melatih sedikitpun. Dia (Klinsmann) hanya bermodalkan keberhasilannya membawa Jerman menjuarai piala dunia di Italia tahun 1990. Kala itu, Klinsmann menjadi kapten tim yang dijuluki sebagai tim Panser itu.
Kontroversi tidak hanya samapi di situ. Publik Jerman mengkritik Klinsmann, lantaran membangku cadangkan kipper senior dan berpengalaman Oliver Khan. Klinsmann tentu punya alasan tersendiri untuk itu. Kontroversi lain adalah Klinsmann memasukan mantan pelatih hoki dalam daftar jajaran pelatih timnas Jerman. Kebijakan kontroversi Klinsmann ini membuat berang pers Jerman dan menuding Klinsmann tak mampu melatih dengan baik. Tidak hanya itu, Kebijakan Klinsmann lagi-lagi menuai kritik. Bukan Klinsmann kalau tidak kontroversi. Klinsmann menggunakan psikolog dari universitas ternama di Jerman untuk menangani permasalahan psikologi timnya. Tim Jerman diharuskan untuk terapi psikologi. Ballack dkk diisolasi dari keramaian. Klinsmann memilih tempat latihan di Berlin dan memilih tempat yang kondusif serta berudara bagus. Berlin adalah kota tempat laga final piala dunia.
Terakhir, bukan Klinsmann kalau tidak membuat kontroversi. Sejak dipercaya untuk menangani timnas Jerman, Klinsmann dituntut memeberikan perhatian yang lebih terhadap tim asuhannya. Saat terpilih menangani timnas Jerman, Klinsmann bermukim di Amerika. Saat itulah, Jerman mendapat kritikan yang sangat pedas dari pers dan publiknya sendiri. Klinsmann tidak ingin menetap di Jerman, Ia lebih memilih bolak balik Jerman dan mengurusi keluarganya. Demikian sorotan pers Jerman
Pembuktian Buat Klinsman
Kekhawatiran publik dan pers Jerman menjadi wajar. Hal inidisebabkan lantaran Klinsmann tidak punya pengalaman sebagai pelatih tim nasional secuilpun. Jangankan tim nasional, tim lokal atau tim junior sekalipun, sama sekali tak pernah disentuh oleh Klinsmann. Namun tangan dingin Klinsmann membuahkan hasil yang indah. Di bawah asuhannya, Jerman menang berturut-turut mulai dari babak penyisihan hingga babak delapan besar yang membuat tim raksasa Argentina tumbang. Kekalahan ini sekaligus membungkam serta membuat nangis supporter dan publik Argentina. Sebaliknya supporter dan publik Jerman merayakan kemenangan indah atas Argentina. Jerman mengubur ambisi Argentina untuk balas dendam atas kekalahan mereka 1-0 di final piala Dunia tahun 1990 lalu di Italia. Kini Klinsmann telah menepis kekhawatiran public dan pers Jerman atas ketidakmampuan dirinya. Klinsmann telah banyak melakukan revolusi atas gaya permainan sepak bola Jerman. Jerman yang biasanya bermain bertahan dan terlambat panas, kini menjadi tim yang sangar dan haus gol. Di bawah asuhan Klinsmann, permainan menyerang menjadi ciri khas Jerman. Keberhasilan Klinsman melakukan revolusi besar-besaran terhadap sepak bola Jerman, sekaligus menjawab keragu-raguan publik dan pers Jerman apakah jerman harus bermain bertahan atau menyerang, ataukah Jerman harus meninggalkan model permainan copy paste dari text book. Kini Klinsmann telah menjawab keragu-raguan itu. Klinsmann mulai mendapat tempat yang layak di hati publiknya sendiri. Setidaknya itu dibuktikan saat Jerman lolos pada laga partai delapan besar.
Kado terindah
Jika sekiranya Klinsmann mampu membawa Jerman untuk merebut kembali gelar juara dunia keempat kalinya, maka ini adalah kado terindah untuk Klismann dan kado terindah untuk Jerman. Harapan itu sah-sah saja bagi siapapun, demikian juga dengan Klinsmann maupun pendukung Jerman. Klinsman akan mencatatkan diri sebagai pelatih yang tidak memiliki pengalaman melatih namun mampu membawa Jerman menjuarai piala dunia 2006. Klinsmann telah mencatatkan dirinya sebagai pelatih termuda sepanjang sejarah piala dunia. Klinsmann telah menjadi fenomena sepak bola dunia. Banyak mata menyaksikan startegi dan taktik pelatih bertangan dingin ini. Bahkan pelatih berpengalaman sekelas Jose Pakerman pun luluh dengan strategi Klinsmann. Kini Klinsmann menjadi pusat perhatian sepak bola dunia. Bahkan Negara besar seperti Amerika siap mengontrak Klinsmann untuk melatih tim Paman Sam itu. Karir Klinsmann benar-benar mujur. Bahkan kepopuleran Klinsmann mampu menandingi sang Kaisar Bola Jerman Frank Bekenbouer yang kini menjadi presiden FIFA. Congratulations untuk Klinsmann. “Selamat Berjuang Klins!”.